Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang menawarkan berbagai macam wisata yang memaksimalkan kelebihan wilayahnya. Ada lebih dari 15 pantai terkenal disepanjang garis pantai selatan dan berbagai wisata budaya seperti museum, dan keraton, serta wisata kuliner khas Yogyakarta seperti Gudeg, Bakpia, Geplak, Yangko dan jajanan khas Yogyakarta lainnya. Kali ini kita akan membahas lebih dalam sejarah gudeg mulai dari penciptaannya hingga dapat menjadi ikon makanan khas Yogyakarta.
Sejarah Gudeg Pada Masa Kerajaaan Mataram
Pada zaman Kerajaan Mataram sekitar tahun 1500-an memiliki wilayah dengan banyak pohon nangka yang menghasilkan buah melimpah. Hal ini membuat masyarakat sekitar memikirkan cara untuk mengolah berbagai macam sajian dengan bahan dasar buah nangka khususnya gori atau nangka muda yang seringkali tidak terpakai. Pada saat itu penjajah mengincar banyak pertanian yang dihasilkan oleh masyarakat kecuali nangka, karena buah nangka dianggap tidak memiliki nilai jual yang tinggi.
Makanan yang terbuat dari ‘limbah nangka’ ini merupakan makanan yang biasa dimakan oleh kalangan kelas bawah seperti prajurit atau buruh. Masyarakat mataram saat itu mengolah gori dengan cara merebus gori cukup lama hingga menghasilkan tekstur yang lembut, kemudian diberikan bumbu rempah sederhana hingga meresap kedalam daging buah serta dicampur dengan santan kelapa. Pengolahan gori pada saat itu biasanya dilakukan dalam jumlah banyak menggunakan ember besar yang terbuat dari logam sehingga membutuhkan alat pengaduk yang menyerupai dayung perahu. Teknik mengaduk ini dalam bahasa jawa disebut hangudek atau hangudeg, dan dari sinilah nama gudeg berasal hingga dikenal luas sampai saat ini.
Perkembangan Gudeg Di Yogyakarta
Pada tahun 1819 gudeg mulai dikenal masyarakat wilayah lain dan dinilai makanan yang dapat disandingkan dengan pelengkap apapun. Hal ini yang membuat gudeg menjadi makanan yang cepat memperoleh ketenarannya bahkan menjadi mata pencaharian baru di salah satu jalan kota Yogyakarta yakni jalan Wijilan pada tahun 1970 hingga 1980an.
Seiring perkembangan zaman, gudeg tidak hanya dijual di tempat makan pinggir jalan, tetapi juga banyak disajikan di berbagai restoran. Kemasan gudeg juga sudah berkembang, sekarang tidak hanya dikemas menggunakan besek atau keranjang bambu yang tradisional, gudeg juga dikemas menggunakan kemasan modern salah satunya menggunakan kaleng, hal ini dapat membuat gudeg lebih tahan lama dan mudah untuk didistribusikan ke banyak daerah lain di Indonesia. Ini merupakan salah satu upaya masyarakat Yogyakarta untuk ikut melestarikan kuliner khas daerahnya melalui sektor wisata kuliner.
Ragam Variasi Gudeg
Pada awalnya gudeg hanya terbuat dari nangka muda dan santan saja, namun dalam perkembangannya gudeg juga ditambahkan dengan berbagai macam pelengkap seperti telur, ayam opor, krecek, daun singkong, tempe manis, tahu manis, dan banyak lagi yang lainnya. Gudeg juga dapat dinikmati pada pagi, siang dan malam hari, ditambah lagi kuliner ikon Yogyakarta ini memiliki beragam varian rasa tergantung cara dan bahan yang membuatnya.
Berdasarkan cara pengelolaannya, gudeg dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah gudeg basah yakni gudeg dengan kadar air tinggi yang disajikan dengan santan cair sehingga menghasilkan tekstur basah dan menonjolkan cita rasa gurih dari santan cair. Karena basah maka gudeg jenis ini menjadi mudah basi, dan tidak mudah dibawa saat perjalanan. Maka dari itu masyarakat membuat jenis gudeg yang kedua yaitu gudeg kering dengan cara memasak gudeg lebih kecoklatan dan kering, membuat rasa gudeg menjadi lebih manis serta tidak mudah basi.
Baca Juga : Membuat kreasi Gudeg Jogja sederhana ala Rumahan!
Selanjutnya menurut bahan bakunya, gudeg dibagi menjadi tiga jenis yakni menggunakan gori (nangka muda), rebung, dan manggar. Penjual gudeg nangka mudah sekali ditemukan diseluruh wilayah Yogyakarta, sedangkan gudeg rebung hanya dapat ditemukan di restoran atau dibuat dirumah-rumah, dan gudeg manggar adalah gudeg istimewa karena berbahan dasar bunga kelapa yang masih muda yang diolah sama dengan bumbu rempah gudeg lainnya namun yang berbeda adalah waktu pengelolaannya yang harus diatas tungku selama satu malam dan diperuntukkan bagi acara khusus seperti pesta atau momentum penting lainnya.
Referensi : Jurnal Sejarah dan Budaya oleh Laurencia Steffanie Mega Wijaya Kurniawati